JANGAN BAWA AKU KE NERAKA

Karya Arbie Sheena

Ini cerpen horor fantasy pertama aku, dibuatnya bareng mantan yang punya indra keenam hhehhe. Kalian tau mantan gak? Itu tuh MAkaN keTAN hahahaha...
Diharapkan komennya likenya atau kritiknya juga boleh, saya paling suka kritik apalagi kritik pisang, kritik ubi, kritik rosan ( itu mah aktor india) gejelah....

Aula Hotel ’K’ terlihat begitu berkelas, cristal-cristal lampu memancarkan sorotan cahyanya di setiap sudut ruangan yang nampak klasik nan romantis bak abad delapan puluhan. Para tamu undangan datang dengan senyum sambil membawa pasangan, turut mencocokkan suasana dengan berbusana yang sesuai.
Lantunan musik swing jazz turut membawa para tamu tak melewatkan momentum berharga untuk berdansa. Sementara para pelayan menuangkan wine ke dalam gelas para tamu yang sedang berbincang di sudut lain.
Kedatangan Median baru tercium Papa yang sedang berbincang-bincang dengan tamunya. Pria berumur 28 tahun itu baru menginjakkan kaki di Aula dengan pakaian jas lengkap dengan dasi kupu-kupunya sambil menghembuskan napas lewat mulutnya untuk mencairkan ketegangan saat bertemu rekan-rekannya nanti.
Setelah sampai di tempat, Median langsung mengambil segelas wine di atas baki saat ditawarkan oleh seorang pelayan tanpa terlebih dulu menyapa Papa yang berada jauh lima kaki darinya. Sementara Papa segera mohon pamit pada rekan-rekannya untuk sekedar menyapa Median.

“ Median…..” sapa Papa dengan penuh ramah sambil melintas di belakang Median. Sementara Median berusaha mengatur cara senyumnya agar tidak terlihat menjengkelkan di hadapan Papa.
Barulah Median berbalik badan dan balas menyapa Papa dengan senyum buatannya.
” Papa.......” sahut Median.
” Kamu datang juga, Papa janji kali ini tidak akan mengecewakanmu. Dia pintar, cantik dan yang paling penting, dia yang akan membuat masa depan perusahaan kita bertambah cerah.” tutur Papa meyakinkan Median agar perjodohan yang sudah di rencanakannya kali ini tidak kembali gagal.
Median mendesah, ” Iya...iya....Median tau, Papa sudah bilang hal ini berulang kali di rumah, di kantor. Dan sekarang disini.” Median mencoba mengingatkan Papa, namun Papa malah tertawa terbahak-bahak serasa tidak perduli. Sementara Median tersenyum masam sambil kembali meneguk minumannya.

Lalu acara di buka dengan pidato dari Papa sebagai pemilik Hotel ’K’ sekaligus sebagai Pemimpin Grup K. Setelah membunuh waktu kurang lebih 10 menit, Papa mengundang Median untuk naik ke atas podium begitupun dengan calon tunangannya, Zaira.
Para wanita eksklusif terpanah dengan kecantikan wajah pribumi Zaira. Zaira menggunakan tatanan rambut ala Marlin Monro yang tersematkan jepitan swarovski terbentuk inisial namanya untuk mendukung busana longdress merah marun yang membuat mereka iri untuk memilikinya.
Selain itu, wanita yang baru beranjak 25 tahun itu sudah dipercaya untuk menjabat sebagai direktur utama di perusahaan papanya sekaligus salah satu komisaris besar di anak perusahaan Grup K. Karena alasan itulah Papa menjodohkan Median dengan Zaira.

Sekarang Median dan Zaira sudah berada di atas podium, tanpa basa-basi Papa segera memperkenalkan mereka satu sama lain. Zaira langsung menjulurkan tangannya dengan senyuman manis lesung pipit khasnya namun Median menyambut tangannya dengan senyum kecutnya. Setelah perkenalan singkat itu dengan seenaknya Median berlalu pergi, para tamu berubah kebingungan ditambah heboh sorak-sorai penuh tanya.
Papa terlihat kesal karena lagi-lagi Median bertingkah seperti biasanya.
” Papa akan tetap melaksanakan pernikahannya.” bentak Papa.
” Terserah......!!!. ” sahut  Median dengan nada malas.
Sementara Zaira nampak sedikit kecewa sambil menatap Median berjalan.

***

Median masuk ke dalam kamar Hotel, mengunci pintu dan segera membuka dan membanting jasnya ke lantai.
” Apa ada lagi hidup yang membosankan lebih daripada ini?.” gerutu Median sambil membanting diri di ranjang.

Krekkkkk............. Krekkkkkkk...............

Tiba-tiba jendela kamar Median terbuka lebar akibat hentaman angin yang kencang dari luar. Median mendesah dan dengan terpaksa membangunkan diri untuk melakukan hal yang tidak berguna yaitu mengunci jendela. Lalu Median kembali membanting diri di ranjang.

Namun lagi-lagi jendela itu kembali terbuka lebar seperti menghantuinya.........

Krekkkkkkkk........ Ngikkkkkkkk.........

Median sesegera menatap ke arah jendela yang ada dihadapannya dengan penuh keterkejutan. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri saat terpaan angin menghembus ke arahnya hingga mampu menyanyat ke dalam daging dan tulangnya.
Sementara Median berusaha untuk tenang dan tak berfikir yang macam-macam sambil kembali membangunkan diri dan kembali mengunci jendela kamarnya, kali ini Median tak lupa untuk memastikannya benar-benar terkunci agar jendela tak terbuka lagi. Barulah Median kembali merebahkan diri di ranjang sambil menyelimuti seluruh anggota tubuhnya dengan selimut sambil gemetaran.
Situasi menenang untuk waktu yang lama, dengan cepat Median masuk ke dunia mimpinya setelah sebuah lagu sempat bersenandung dan terprogram difikirannya yang biasa menemaninya ketika tidur.
Semakin terlelap, lagu itu semakin kuat terasa di benaknya, kuat hingga Median tidak mampu menghentikan senandung lagu yang semakin merasuki alam bawah sadarnya. Tidak hanya itu, suara-suara cekikikan sebuah makhluk mistis tiba-tiba turut terbayang merasuki alam mimpinya.
Dengan bercucuran keringat, Median terengah-engah berusaha untuk keluar dari alam mimpi yang sekarang sudah mengikatnya. Tubuhnya tak mampu untuk menghindar ataupun bergerak, Median hanya dapat mengeliat-liat seperti cacing kepanasan selagi rohnya terhisap oleh sesuatu makhluk hitam pekat mencekam yang kini melayang diatas tubuhnya.
Median sekuat tenaga berusaha untuk berteriak meminta pertolongan ditengah penglihatan yang samar, sementara suaranya tidak mampu keluar seperti mana biasanya. Raut wajah yang memerah dan jambakan kencang di bantal hanya dapat mengartikan jika ia tidak menginginkan bila jiwanya terhisap.

***

Para perawat bergegas mendorong ranjang menuju ruang UGD sambil sesekali memeriksa kondisi pasien. Median dengan sisa-sisa tenaga samar-samar melihat dan mendengar isak haru keluarganya sejenak lalu kembali memejamkan matanya.
Para dokter telah melewati masa-masa ketegangan dan Median dinyatakan koma. Setelah tidak bangun untuk beberapa bulan Median dinyatakan telah meninggal dunia.

Sejak kejadian aneh yang membuat Median meninggal, mendadak Hotel K menjadi perbincangan para media cetak maupun elektronik. Akibatnya Hotel K sepi pengunjung, padahal Papa sudah melakukan berbagai cara promosi agar Hotel tetap bertahan sekalipun memanggil orang pintar untuk mengusir makhluk gaib dari Hotel. Namun para pelanggan tidak mau mengambil resiko untuk menginap. Setelah mengalami kebangkrutan dengan terpaksa hotel K ditutup.

***

Di toilet, jenazah Median di mandikan oleh para kerabat begitupun dengan Mama. Mama masih meratapi betapa sulitnya ia harus mempercayai kematian Median yang begitu cepat. Mama membasuh tubuh Median dengan segayung air sambil menatapi rona wajah Median yang tak secerah dulu dengan di hujani airmata.
Seorang kerabat yang turut bertugas memandikan jenazah, tiba-tiba saja tersentak kaget begitu melihat kelopak mata Median yang secara perlahan terbuka. Semua yang melihat turut menjerit histeris sambil bergegas pergi, sementara Mama masih tetap berada disana sambil tersenyum bahagia.

***

Mati suri Median kembali menjadi perbincangan yang menghebohkan banyak orang. Hotel K kembali dibuka dan menjadi tempat baru bagi para petualang yang berani menantang diri, Papa sampai berpromosi memberikan sejumlah uang jika ada seseorang yang berani menginap di kamar bekas Median. Berita itu kian tidak juga tenggelam saat Median dinyatakan bisa kembali beraktifitas dan kembali bekerja.
” Bagaimana bisa orang yang udah jelas-jelas di vonis meninggal dan sebelumnya sempat koma beberapa bulan sekarang bisa berkeliaran lagi di kantor.” bisik-bisik salah seorang karyawan pada karyawan lain.
Tanpa sadar Median masuk ke dalam ruangan dan melintas di samping mereka sambil menatap mereka dingin, sontak mereka terkejut dan berpura-pura bekerja sambil menyambut tatapan Median yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Begitu juga yang dirasa oleh rekan kerja Median, saat makan siang Median tidak biasanya hanya duduk manis sambil terus makan tanpa menyeletuk setiap candaan yang dilontarkan temannya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Papa, namun Papa pun tak dapat berbuat apa-apa.

***

Suatu hari saat matahari tak menyinari alam semesta dan awan lebih mendominasi untuk menyelimuti bumi dengan warna hitam pekat dan dengan hembusan angin yang tak bersahabat. Sesosok makhluk itu kembali menghantui Median, makhluk itu tak hentinya menghasut Median yang sudah kehilangan kesadaran untuk mengajaknya terjun dari atap perusahaan. Dengan tatapan kosong Median hanya dapat mengikutinya sampai di sebuah ujung pijakan dan selangkah lagi Median akan tiba pada kematian.
Di moment itu tibalah Zaira yang sesegera menyerang makhluk itu dengan sabetan gelang sucinya, Makhluk itu pun musnah dan Median selamat dari maut. Selain itu, Zaira turut mengembalikan kesadaran Median dengan menempelkan sejenak gelang sucinya ke kening Median. Setelah sadar, Median celingak-celinguk kebingungan seperti orang bodoh.
” Kenapa aku ada disini?, dan kamu juga?. Bukannya kita ada di hotel?.”
” Coba ingat sendiri kenapa kamu bisa berada disini.” perintah Zaira.
Samar-samar Median mengingat semua kejadian yang telah menimpanya namun hal itu malah membuat kepalanya sakit bagaikan ditimpa reruntuhan besi baja.
” Sudah jangan diingat terlalu keras. Aku salut melihatmu kembali hidup padahal roh kamu sudah banyak dihisap mereka.” ujar Zaira.
Lalu Zaira menunjukkan gelang sucinya dihadapan Median, ” Tapi untung saja sabetan gelang ini bisa membawa rohmu kembali dengan utuh.” sambung Zaira.
” Sebenarnya apa tujuan mereka melakukan itu kepadaku?.” tanya Median sambil mengerutkan dahinya.
” Kenapa kamu tidak memakai gelang suci untuk mengalahkan mereka?.” Zaira bertanya ulang.
” Gelang suci?. Aku gak punya itu.” Median masih terlihat kebingungan.
Zaira bertolak pinggang sambil menatap Median tajam yang dikiranya sedang berpura-pura.
” Jujur, apa sebelumnya kamu pernah berhubungan dengan mereka?, seperti meminta kekayaan pada mereka atau yang lainnya.” selidik Zaira.
” Kamu gila......” Median merasa tersinggung.
” Tolong jujur saja tidak perlu malu.”
” Justru aku mau tanya, apa mereka suruhan kamu?. Oh..... atau kamu memang sengaja menyetujui perjodohan itu untuk mengambil alih Grup K saat aku mati.” tuduh Median.
Zaira berubah geram dengan tuduhan Median lalu Zaira kembali menempelkan gelang sucinya di dahi median sejenak. Begitu gelang suci dilepaskan, tiba-tiba Median berteriak histeris sambil berusaha menjauh dari hadapan Zaira. Zaira sengaja memperlihatkan Median pada sebuah makhluk yang dengan setia berdiri di samping Zaira.
” AA..AAA.....APA ITU....?.” tunjuk median dengan gemetar pada sebuah makhluk besar berkulit gelap yang mempunyai enam buah tangan dan dua wajah di depan dan dibelakang.
” Dia temanku namanya Zeto.” jawab Zaira enteng.
” Kamu sudah gila makhluk begitu di jadikan teman.”
” Anda jangan kurang ajar.” sahut Zeto dengan nada garang.
Keterkejutan Median bertambah setelah mengetahui jika Zeto mampu berbicara.
” Haaa....!!!, dia juga bisa bicara.” tubuh Median kembali gemetar.
” Zeto jangan bicara dulu kamu bisa membuat dia pingsan.” perintah Zaira, dan Zeto segera menurutinya.
” Maafkan saya.” ujar Zeto dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.
” D...d....d....Dia makhluk apa lagi?.” tanya Median gagap.
” Maaf saja kalau aku menyetujui perjodohan itu karena ingin harta kamu. Kalau aku ingin kaya aku tinggal menyuruh Zeto untuk mengambilkan segala yang kumau. Dan satu hal lagi, mahluk yang ada di sebelahku ini berbeda dengan lambrtz, nama makhluk yang sudah menghisap rohmu. Dia baik, setia dan tidak menerima imbalan saat kusuruh.” ujar Zaira.
” Aku benar-benar gak ngerti.” Median mengeleng-gelengkan kepala.
” Waktu itu orang tuaku bangkrut, mereka hampir bercerai, aku bingung harus kemana. Dalam mimpi aku bertemu Zeto, lalu Zeto menyuruhku untuk melakukan ritual keberuntungan di tempat mereka selama sebulan. Dari sana aku berteman dengan Zeto, anak penghuni alam lain yang disebut Andryai. Setelah ritual itu selesai, Zeto meminta agar dirinya bisa selalu ada di sampingku. Dengannya aku balik ke rumah dan keadaan sudah kembali ke kondisi semula.” tutur Zaira.
Lalu Zaira menunjukkan gelang sucinya, ” Dan dari sana aku mendapatkan ini, sebuah pantangan besar jika kita selalu mengeluh setelah keluar dari sana, karena Lambrtz akan menghisap orang-orang yang melalaikan pantangan. Dan gelang suci ini bertujuan untuk menyelamatkan kita dari mereka, batas limitnya hanya 10 kali pakai lalu mereka akan membawamu KE-NE-RA-KA. Masa kamu tidak tau pantangan itu?.” tambah Zaira.
” Kesana aja aku belum pernah.” bantah Median
” Anda memang tidak pernah datang kesana, tapi Papa anda pernah.” sahut Zeto.
” Apa?, Papa pernah kesana?.” Median kembali terkejut.
” Anak cucu yang memakan hasil dari dewa agung akan mendapatkan ganjarannya bagi yang tidak bersyukur atas pemberiannya.” jawab Zeto.
” Jadi aku akan selalu diserang oleh makhluk yang bernama lambrtz itu?.” tanya Median dengan takut.
” Itu kalau kamu selalu mengeluh.” jawab Zaira.
Median mengeleng-gelengkan kepala, ” Ini gak adil.....”
” Kalau begitu ini ambil saja, sepertinya kamu lebih membutuhkan.” Zaira memberikan gelangnya pada Median.
” Zaira nanti keberuntunganmu?.” cemas Zeto.
” Tidak perlu cemas, aku kan udah punya kamu.” Zaira tersenyum sambil memeluk Zeto.
 ” Jadi...., sampai ketemu besok.” lalu Zaira dan Zeto menghilang dengan teleportasi padahal Median masih ingin melanjutkan perbincangannya.

***

Sejak hari itu Median kembali hidup dengan normal, tak ada lambrtz yang mengganggu ataupun para karyawannya yang sering mengosipkannya dan sekarang Papa tidak lagi memaksakan kehendaknya. Median pun menghormati Papa dengan tidak membahas soal dunia Andryai di hadapannya.
Setelah seminggu tak berjumpa dengan Zaira, tanpa sengaja mereka bertemu saat rapat kerjasama antara Grup K dan perusahaan papa Zaira. Setelah itu mereka pergi berkencan, mengobrol banyak hal tentang mereka dan mereka mulai saling tertarik satu sama lain. Dan Median berniat menikahi Zaira.

***

Di malam resepsi, di dalam ruangan khusus pengantin pria, terlihat betapa gugupnya Median yang sesekali membenarkan dasinya di depan cermin besar seukuran tubuhnya. Sesekali Median menghembuskan napas panjang untuk mencairkan ketegangannya saat berhadapan dengan para tamu.

NgggiKkkkkkk.......................

Tiba-tiba sebuah jendela terbuka lebar dengan sendirinya. Median segera berbalik badan dengan wajah ketakutannya dan merasakan hal yang dejavu. Tanpa pikir panjang Median segera melarikan diri dari ruangan, namun dengan sekejap Lambrtz mengunci pintu keluar yang hanya ada satu-satunya disana.
Suasana kembali mencekam diiringi dengan petir dan angin badai seolah menyambut kehadiran lambrtz. Tak hanya satu, kali ini Lambrtz datang berkelompok dan melayang menyusuri keberadaan Median, sementara Median terpojok di sebuah sudut sambil berteriak histeris.

Teriakan Median terdengar sampai ke telinga Zaira yang sedang menunggu di ruangan khusus pengantin wanita. Zaira merasakan hal yang janggal dan segera berteleport ke tempat Median berada bersama Zeto.
Setelah sampai di tempat, sayangnya Zaira dan Zeto hanya dapat melihat dari kejauhan karena takut Lambrtz akan menyerangnya juga. Zaira semakin tak tega melihat keadaan Median yang kian kritis akibat sekelompok Lambrtz yang kelaparan saling berebut menghisap rohnya.
” Zaira....tolong.....” Dengan suaranya yang serak Median meminta pertolongan pada Zaira.
” Gelang kamu ada dimana?.” teriak Zaira dari kejauhan.
Lalu Median menunjuk sebuah laci, tempat dimana ia menyimpan gelang sucinya. Kemudian Zaira beranjak mengambil gelang suci itu namun Zeto melarangnya.
” Percuma! gelang itu tidak akan bisa membuat semua lambrtz pergi.” cegah Zeto.
” Lalu apa yang harus aku lakukan?.” tanya Zaira dengan panik.
” Mari kita pergi ke andryai.” ajak Zeto.
” Aku tak bisa itu terlalu lama, bagaimana jika sebelum kita kembali median tidak selamat?.”
” Tiga puluh menit di dunia andryai bukankah satu detik di dunia ini, ayo Zaira.” Ujar Zeto sambil mengulurkan tangannya ke arah Zaira.

Sementara itu Lambrtz membawa Median kembali teringat pada kejadian di Hotel K saat lambrtz berusaha mengambil jiwanya, dengan penglihatan samarnya Median melihat Zeto berada di sebelah ranjangnya sambil tersenyum licik yang sengaja membiarkan Lambrtz menyerangnya.
” Anda tak akan bisa menjadi pendamping hidup Zaira, karna Zaira hanya milik saya dan selamanya akan mengabdi pada saya di Neraka. Anda akan merasakan bagaimana rasa sakit hati yang sebenarnya saya rasakan saat kalian bersama. Tak akan ada orang yang bahagia bila berhubungan dengan dunia Andryai.” ujar zeto dengan penuh kedendaman pada Median.
Disisi lain Zeto tersenyum sambil meraih tangan Zaira, kemudian dengan teleportasi mereka bersiap untuk pergi.
Dengan tenaga yang tersisa Median berteriak ” ZAIRA.....!!!!.”
Namun hal itu sia-sia, Zaira dan Zeto sudah menghilang dari hadapannya....


JAKARTA, APRIL – MEI 2011

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar