Karya Dinda ClNta
Satu goresan lagi untuk warna yang begitu tebal. Sudah berulangkali beberapa lembar kertas telah terbuang. Rupanya ia belum mencapai detik akhir puncak pencapaian yang diinginkannya. Saat kertas yang kesekian itu dicermati kembali, maka kembali pula ia membuangnya ke tong sampah.
"Belum ada yang cocok." katanya monolog."Memang butuh kesabaran."
Lelaki yang kerap dipanggil Lien itu mencoba kembali. Menggoreskan pensil pada secarik kertas untuk mendapat hasil yang maksimal. Ia ingin sekali sukses melukis raut wajah cantik yang terlintas semalam. Dengan tubuh dibalut gamis merah marun, perempuan itu terbang di hadapannya. Matanya yang sipit dengan alis sedikit tebal, berhasil menyita waktu Lien untuk konsen hari ini.. Padahal, dosen sedang sibuk berceramah ria di depan kelas. Namun Lien sama sekali tidak peduli.
"Heii... Apa yang sedang kamu kerjakan? Dosen tuh, melotot daritadi." Ranti menyikut tangan Lien yang tak berkutik setelah melihat pak Handoyo dosen Linguistik sedang menjelaskan di depan.
"Keluar kamu, jika tidak ingin ikut di pelajaran saya sebaiknya angkat kaki segera." tegas pak Handoyo mendelik.
¤¤¤
"Kamu sih Lien, sudah tahu tuh dosen killernya minta ampun. Berani aja dilawan." omel Ranti di kantin sambil menyeruput gelas minumannya.
"Yeah... Akhirnya berhasil. Cihuy..." Lien bersorak kegirangan, bahkan ia sampai berjingkrak-jingkrak melihat kertas yang sudah berhasil terisi dengan gambar gadis dalam mimpinya semalam.
Ranti hanya mendengus kesal, mendapati dirinya tidak dipedulikan. Karena gemas dan sedikit kecewa, Ranti merampas kertas hasil lukisan yang sudah jadi itu dari tangan Lien.
"Hey?" Lean terkejut sambil marah-marah. "Kembalikan.." ujar Lien.
"Yee... Ogah ya, lagian ini gambar apa sih?" Ranti memandangi gambar itu dengan mata bulatnya, ia berhasil mengetahui gambar siapa yang dilukis Lien.
"Sini..." Lien merebut kembali lukisannya. Sambil mengelus-elus gadis yang terlukis cantik pada secarik kertas kuarto ukuran A4 itu.
"Kamu kenal dia darimana?" tanya Ranti yang sekaligus menimbulkan tanya di benak Lien juga.
"Kamu kenal?"
"Yee...dianya malah balik nanya." sungut Ranti kesal.
"Aku serius? Kamu kenal sama cewek ini?"
Ranti memandangi wajah Lien. "Kenapa memangnya?" tanya Ranti menyelidik.
"Kalau dia memang benar ada, aku jatuh cinta sama dia." jawab Lien santai.
"What? Gak salah denger aku?" Ranti geleng-geleng kepala kecewa. Karena sebenarnya Ranti juga telah menyimpan perasaan yang baru saja dilontarkan Lien untuk Rabiah. Ranti tidak menjawab tanya Lien. Perempuan berumur 20 tahun itu pergi begitu saja meninggalkan Lien.
"Shittt... Woi, aku belum selesai ngomong." panggil Lien dengan keras. Seakan tak ingin ketinggalan berita tentang gadis dalam lukisannya. Ia cepat-cepat membereskan semua cat-catnya. Kemudian berangsur mengejar Ranti.
Ranti berjalan dengan cepat. Maklum ada peraturan ketat di kampusnya. Bahwa setiap yang merasa diri perempuan. Harus mengenakan pakaian yang tertutup. Dilarang keras mengenakan celana jins. Jadi semuanya rata-rata harus mengenakan rok. Tentu saja itu membuat Ranti kesulitan berjalan. Pasalnya, ini kali pertama Ranti pakai rok. Gadis tomboy itu terpaksa harus menjadi feminim demi menuntut ilmu di kampus tercintanya, STKIP Hamzanwadi Selong. Sekalian plus dengan jilbab.
"Arghh.." Ranti masih kesal. Ditendangnya batu, kaleng, atau apapun yang bisa ditendang selama dalam perjalanan. Tiba-tiba dari belakang, sebuah tangan menggamit pundaknya. Sehingga Ranti terpaksa harus menoleh.
Matanya semakin mendelik dan menyeramkan. Kala yang dilihat adalah Lien.
"Apa sih!!" bentak Ranti kasar.
"Kamu masih marah? Sebenarnya salah aku apa sih?" tanya Lien bingung.
Ranti diam, sebenarnya dalam benaknya juga berpikir kalau Lien memang tak punya salah padanya.
"Ran...aku minta maaf ya?"
"Gak perlu, aku yang salah. Aku yang seharusnya minta maaf." kata Ranti pelan.
"Jadi boleh dong?" tanya Lien bersemangat.
"Apa?"
"Aku boleh tahu siapa gadis yang aku lukis ini?"
Lien merentangkan lukisan itu tepat di depan wajah Ranti. Itu membuat Ranti cemberut stadium empat.
"Dia sudah mati. Buat apa sih kamu tahu? Gak penting tahu?" sungut Ranti makin naik darah. Direbutnya kembali lukisan itu, kemudian..
SRREK SREEK . .
Ranti menyobek-nyobek lukisan itu hingga menghambur kemana-mana karena tertiup angin. Lien melihat itu jadi marah besar.
PLAKK
Refleks tangan Lien mendarat di pipi tembem Ranti. Membuat gadis itu syok plus jantungan seketika. Sebenarnya pantang bagi gadis itu untuk mengeluarkan air mata. Tapi kali ini, mutiara bening itu jatuh, pecah, mencair di bumi..
"Ma-maafkan aku Ran, aku khilaf." tutur Lien merasa bersalah.
Sambil memegang pipinya. Ranti berlari pulang dengan menjinjing rok yang mampu jadi penghalang langkahnya.
¤¤¤
Sudah dua hari Lien tidak melihat Ranti di kampus. No.hpnya juga tidak aktif.
"Apa dia masih marah ya sama aku? Haduh bodoh... Ngapain juga sih kemarin aku pakai nampar dia segala." rutuk Lien pada dirinya sendiri.
"Udah... Samperin aja ke rumahnya." saran Saga teman sebangku Lien.
"Tumben kamu pinter?" kata Lien nyengir.
"Kamu aja tuh yang belo'on." kata Saga sembari menjitak kepalah temannya itu.
"Ya udah, aku pergi dulu ya."
"Good luck."
Tiba di rumah Ranti. Dari luar benar-benar terlihat sangat sepi. Seperti si empunya sudah pindah rumah.
"Apa? Pindah rumah? Kapan Bu?" tanya Lien pada ibu-ibu tetangga yang sedang mengerumuni tukang sayur keliling.
"Dua hari yang lalu."
Lien menggaruk-garuk jenggotnya yang hanya tumbuh 10 helai itu. "Kira-kira pindahnya kemana Bu ya?"
"Ke Selong, di Gandor. Kamu cari aja disana. Sekarang dia tinggal sama kakak tirinya. Ini kamu catat alamatnya ya." ibu-ibu itu menyodorkan alamat yang bisa dikunjungi Lien.
Matanya menyusuri nama yang tertera disana.
"Rabiah Az Zahra. Selong, Gandor Cempaka no. 12." Lien menggaruk lagi jenggotnya yang sama sekali tidak panjang itu.
"Bu, boleh nanya lagi gak? Ini lokasinya dimana ya?"
Berkat kesabaran ibu itu, akhirnya Lien berhasil menjumpai rumah yang diincarnya. Sebelum melangkah masuk ke dalam, terlebih dulu Lien memandangi kaca motornya.
"Aduh.. Cakep banget sih kamu Lien. Hahaha.." puji Lien pada dirinya sendiri.
Lien sudah sampai di gerbang. Tidak ada bel disana. Baru saja hendak mengucap salam, suara bising terdengar dari dalam. Tepatnya seperti suara piring pecah. Sedetik berikutnya, suara perempuan yang sangat dikenal Lien berteriak keras sekali.
"Ranti?" hatinya langsung yakin itu suara jeritan Ranti.
Tanpa pikir panjang dan tidak peduli, Lien menaiki tembok rumah orang. Mencari-cari celah dimana dia bisa masuk menerobos ke dalam. Tidak berhasil, malah kesialan menimpanya. Seorang perempuan dengan mata sipit dan alis sedikit tebal keluar dari pintu belakang. Gamisnya yang berwarna merah marun semakin merah karena adanya bercak darah. Memberi corak jelek di gamisnya.
"Maling ya? MALIIIINNGGGGGG...." teriak perempuan itu sekuat tenaganya.
Menyadari dirinya diteriaki maling, Lien langsung membungkam mulut perempuan itu.
Jarak mereka kini kian dekat. Tiba-tiba saja Lien merasakan hal yang tidak biasa ketika berdekatan dengan perempuan itu. Ia merasakan darahnya berdesir lembut. Jantungnya berdebar-debar. Nafasnya tersengal-sengal. Benar-benar dia sudah jatuh cinta pada perempuan itu.
Sementara perempuan itu dibekap. Ia terus berontak , mencoba berlepas.
"Lien???" pekik Ranti yang keluar dari pintu depan.
Lien melepaskan perempuan itu. Lalu mendekati Ranti. Yang tangannya meneteskan darah.
"Kamu gak apa-apakan Ran? Apa yang sakit? Kenapa tanganmu berdarah? Kenapa kamu pindah gak bilang-bilang aku?" tanya Lien dengan pertanyaan yang tak bisa direm.
Ranti mendengus berat.
"Ayo masuk, kak dia temen aku." kata Ranti mengajak Lien masuk.
Lien mengikuti langkah Ranti di belakangnya. Sambil sesekali mencuri pandang pada perempuan dalam mimpinya. Yang tiba-tiba dia jumpai hari ini.
"Tega ya kamu menyembunyikan semua ini dari aku. Memang kamu pikir aku ini apa?" protes Lien.
"Kamu itu penjahat! Buat apa aku beritahu kamu kalau aku sudah pindah? Entar yang ada, kamu malah bunuh aku lagi." cerocos Ranti tak mau kalah.
"Bukan yang itu maksud aku, soal perempuan di depan. Kok kamu gak bilang kalau dia kakak kamu?"
"Bukan, dia bukan kakakku. Dia ibu tiriku." tukas Ranti geram dengan pertanyaan Lien.
Ranti berdiri hendak membuatkan Lien minuman. Dia tidak sadar telah menyisakan syok berat di hati Lien. Mengetahui informasi tentang perempuan itu. Yang ternyata ibu tiri Ranti. Pupus sudah harapannya untuk menjamah cinta Rabiah.
Belum sempat Ranti meninggalkan kursinya. Rabiah menuju ruang tamu, menyuguhkan senyum terindahnya untuk Lien. Hati Lien semakin berdebar-debar tak menentu. Ranti yang melihat itu langsung masuk kamar.
"Makasih tante.." sopan Lien menyapa.
"Kok tante? Saya bukan tantenya Ranti. Saya kakaknya." jelas Rabiah masih dengan senyum khasnya.
"Tapi Ranti bilang?" tanya Lien ragu.
Rabiah menoleh kamar Ranti. Tertutup, lalu melihat Lien lagi dengan senyuman.
"Ranti memang suka bercanda, sudah jangan pedulikan kata-katanya. Saya masih single belum menikah. Usia saya juga belum tua-tua amat kok?" jelas Rabiah promosi.
Lien senyam-senyum. Dalam hati ia bersorak gembira.
"Kalau boleh tau, mbak namanya siapa ya?"
"Nama saya Rabiah Az Zahra. Kamu boleh panggil saya Rabiah. Maaf ya soal yang tadi? Saya benar-benar tidak tahu kalau kamu ini temannya Ranti."
"Aduh, gak perlu sungkan lagi mbak. Saya juga yang salah, sudah melompati tembok rumah orang sembarangan. Pantaslah kalau saya dituduh maling."
"Aduh, jangan panggil saya mbak dong. Panggil saja, Rabiah. Kamu sendiri namanya siapa?"
"Oh kenalkan nama saya Lien Prasetyo. Cukup panggil Lien aja." senyum Lien terlempar untuk Rabiah. Ia bertekad, kali ini ia harus berhasil menjamah cinta Rabiah. Perempuan yang sangat alim keliatannya itu. Dengan jilbab panjang yang menjuntai menutupi dadanya. Membuat Lien tak bisa tidur karena memikirkan Rabiah terus.
Lien sudah pulang. Kini rumah Rabiah kembali mencekam.
Ranti masih mengurung dirinya di kamar. Meski Lien sudah pulang, sama sekali ia enggan untuk keluar. Darah di tangannya sudah mengering. Ia berbaring untuk melepas penat, lelah, sekaligus kesedihannya sepanjang hari ini.
Belum lama Ranti menutup mata. Suara gedoran pintu mengagetkannya.
"Ranti buka! Sialan kamu ya? Buka kataku!!" perintah suara itu dari balik pintu. Membuat Rianti semakin terpekur sendiri disana. Ia bersembunyi di balik selimutnya. Ia tak mau lagi disiksa Rabiah.
"Awas kamu ya, liat saja kalau papamu pulang. Saya akan buat kamu diusir dari rumah ini. Seenaknya saja kamu!! Bukankah sudah saya bilang sejuta kali. Tutup mulutmu, jangan jadi ember. Dasar sialan kamu."
Umpatan demi umpatan terus saja didengar Ranti. Mungkin rongga vestibulanya sudah rusak mendengar ocehan sadis ibu tirinya itu.
Dua bulan yang lalu sebelum Ranti pindah rumah. Hidupnya masih baik-baik saja. Sebab ia masih tinggal bersama ibunya. Tapi, semenjak papanya membawa pulang Rabiah, perempuan yang dinikahinya dengan cara sirih. Hidup Ranti berubah. Ibunya minggat dari rumah karena tidak kuat. Kemalangan itu pun mulai menghiasi kehidupan Ranti. Apalagi papanya yang selalu menuruti kehendak istri barunya itu. Sampai-sampai mengakui Rabiah sebagai anaknya di depan para tetangga pun. Papanya mau-mau saja.
Rabiah mulai bersikap seenaknya pada Ranti. Siapapun teman Ranti yang datang ke rumah harus mendapat izin dulu dari Rabiah. Jika perempuan, pintu rumah tertutup rapat. Jika laki-laki, Ranti harus mengakui Rabiah sebagai kakaknya. Bukan ibu tiri.
Itu membuat Ranti tersiksa, sehingga hanya air mata yang menjadi sahabat setianya.
Terdengar suara gagang pintu dibuka paksa. Kuncinya terdengar semakin gaduh. Pintu itu sekarang telah terbuka. Rabiah berhasil masuk. Ia mendapati Ranti bersembunyi di bawah kasur.
"Sudah berani kamu melawan sekarang ya? Sekarang tahu rasa kamu. " Rabiah masih mengomel. Di tangannya ada raket listrik pembunuh nyamuk. Sengatan itu sudah diaktifkannya. Disodokkan raket itu ke bawah kasur.
Teriakan-teriakan yang terdengar nampak sebagai kemerdekaan bagi Rabiah. Ia semakin membabibuta menyakiti Ranti. Di bawah kasur sana, terdapat tubuh yang lebam tersengat listrik. Hingga tak bersuara lagi. Barulah Rabiah merasa tenang.
Handphone Ranti bernyanyi pelan, panggilan dari Lien tertulis dilayar kaca.
"Halo, Assalamu'alaikum.." suara yang dibuat teduh menyapa Lien dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam, hmm ini Rabiah ya?" tanya Lien.
"Iya, kok tahu?"
"Ya tentu saja, sebab saya kenal betul bagaimana cemprengnya suara Ranti. Ehm, boleh saya bicara dengan Ranti?"
"Aduh.. Maaf ya Lien, Rantinya belum pulang semenjak tadi. Saya sangat khawatir sama dia." tutur Rabiah yang terdengar sedih di telinga Lien.
"Oh ya? Memangnya Ranti kemana? Baiklah, saya akan mencari Ranti. Kamu tenang aja Rabiah." klik hp dimatikan oleh Lien. Diam-diam Lien merasa sangat khawatir dengan keadaan Ranti. Sahabatnya yang tomboy itu memang mendapat tempat yang istimewa di hati Lien. Tidak seperti Rabiah.
Sejenak Lien mulai menyadari, bahwa ia memang lebih sayang pada Ranti daripada Lien. Ada rasa yang berbeda untuk keduanya. Yang masih sulit untuk Lien bedakan.
¤¤¤
Rabia mengeluarkan tubuh yang lemah itu dari balik kasur. Jantungnya masih berdetak. Itu tandanya Ranti masih hidup. Seperti orang kesetanan, Rabiah menggulung Ranti dengan tumpukan selimut. Berharap ia cepat mati. Ia keluar rumah untuk mencari kayu untuk menghantamkannya ke tubuh Ranti yang sudah tak berdaya. Setelah ketemu, Rabiah langsung menuju kamar.
Bersamaan dengan itu, sepeda motor Lien sudah sampai di depan rumah mereka. Lien heran melihat lampu rumah yang mati, sementara pintu terbuka lebar. Maka dengan hati-hati ia masuk ke dalam rumah itu tanpa bersuara.
Rabiah mematikan lampu kamar Ranti. Ia sudah bersiap mengayunkan balok kayu itu ke tubuh Ranti. Ketika tiba-tiba lampu dinyalakan oleh Lien.
Lien dan Rabiah terkesiap bersamaan.
"Apa yang terjadi?" tanya Lien syok. Ia memandangi tubuh yang tergulung selimut itu. Ada rambut yang menyembul sedikit.
Membuat Lien yakin itu adalah Ranti. Bergegas ia melepaskan gulungan yang membelit tubuh Ranti. Matanya nanar melihat Ranti dengan lebam-lebam berwarna biru.
"Kamu? Kamu apakan Ranti?" tanya Lien tertuju untuk Rabiah.
"Ran... Bangun Ran... Ran...." Lien menggoyang-goyangkan tubuh Ranti. Berharap ia akan sadar. Tapi mata itu tetap tertutup membuat Lien panik dan menggampar Rabiah kasar.
Rabiah terpelanting ke sudut tembok. Ia bangkit lagi hendak menjatuhkan balok kayu itu ke kepala Lien. Tapi terlambat. Bersyukur pak Bambang, papanya Ranti bersama warga setempat menghentikan aksi itu.
Ranti selamat. Ia siuman di sampingnya ada ibu dan papanya menggenggam erat jemari tangannya dengan linangan air mata.
"Maafkan papa nak, sudah menelantarkanmu selama ini."
"Udah pa, gak apa-apa.. Buat Ranti, papa mau menyadari kesalahan papa, itu sudah membuat hati Ranti tenang." Ranti berucap sembari memberi senyum terindah untuk semua mata yang memandangnya.
Matanya berputar mengelilingi ruang rawat inap itu. Di pojok sana, tepat di bawah kakinya, senyum Lien seketika mampu mengobati hatinya yang luka.
"Lien..." sapa Ranti.
Lien mendekat, ia menggenggam kuat jemari Ranti.
"Kenapa kamu merahasiakan ini semua dari aku? Kenapa kamu gak bilang kalau Rabiah itu jahat sama kamu? Dengan begitu aku tidak perlu berusaha untuk menjamah cintanya." kata Lien kecewa.
Ranti mengacak rambut Lien lembut.
"Bodoh, bukankah sudah aku katakan kalau dia itu ibu tiri aku? Kamunya aja yang gak percaya? Udahlah lupain, toh sekarang dia udah diringkus polisi."
"Maafin aku ya Ran, udah gak percaya sama kamu?" tutur Lien menyesal.
"Kamu gak salah kok, wajar aja orang yang lagi jatuh cinta. Mana mungkin bisa percaya begitu aja tentang keburukan orang yang dicintainya."
Lien menarik nafas berat. Lama ia tertunduk, lalu kemudian meluncur kata yang mampu mendegupkan jantung mereka berdua cepat sekali.
"Selama ini aku salah mengartikan perasaanku sendiri. Sesungguhnya, hatiku telah memilihmu Ranti. Aku cinta kamu. Mau gak kamu jadi pacarku?"
Ranti mengangguk mantap. Tersungging senyum yang mengiringi setiap tarikan kebahagiaan yang tergambar di tempat itu. Untuk pertama kalinya, Lien merangkul Ranti. Dan pelukan itu adalah pelukan pertama dan pastinya akan ada kedua, ketiga, dan untuk selamanya.
TAMAT
Menjamah Cinta Rabiah
Diposting oleh
gravil esidra
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar