Karya Arbie Sheena
Seldy dan teman-temannya berangkat ke Bandung untuk liburan akhir semester dengan menggunakan bus yang sengaja di sewa oleh para guru. Di tengah perjalanan yang membosankan, mereka membunuh waktu dengan bernyanyi ria diiringi gitar klasik yang dibawa salah satu teman Seldy.
Tak ada satupun dari mereka yang akan menduga sebuah kejadian yang akan menimpa mereka saat bus dengan bebasnya melaju kencang di jalan tol. Tanpa terprediksi dua buah ban belakang bus tiba-tiba pecah tanpa sebab sehingga supir kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, bus pun sempat terguling-guling dan seketika menewaskan semua orang yang berada di dalam bus tanpa pengecualian.
Polisi segera datang dan mengamankan tempat. Jalan tol berubah padat akan kendaraan yang ingin menyaksikan bangkai bus berdarah itu.
Para korban segera dilarikan ke rumah sakit termasuk Seldy, orang tua para siswa segera mendatangi rumah sakit hanya untuk melihat keadaan anaknya yang sudah tak bernapas dan disaat itu tetesan airmata jatuh karna tak ada seorang pun yang dapat membendungnya. Hanya keluarga Seldy yang dapat tersenyum lega karena seorang dokter yang menangani Seldy menyatakan kondisinya baik-baik saja.
Randy, kaka Seldy masuk ke dalam kamar inap Seldy dengan wajah sendu, lalu Randy duduk di samping Seldy yang sedang tertidur pulas sambil menatap adik satu-satunya itu dengan penuh rasa sayang.
Di lelap tidurnya, Seldy bermimpi berada di sebuah ruangan yang gelap, hanya ada sebuah penerangan entah berasal darimana yang menyinarinya. Kemudian seorang kakek dengan wajah sendunya tiba-tiba menghampirinya.
” Seldy....” panggil seorang Kakek itu dan membuat Seldy terkejut.
” Hhhhaaa......”
” Tidak perlu sampai seperti itu, tenang saja saya tidak akan memakan kamu.” ujar kakek itu dengan tenang.
” Anda siapa?.” tanya Seldy dengan gemetar, kakinya seolah ingin melarikan diri saat sang Kakek mendekatinya.
” Kamu tidak perlu tau.” jawab Kakek itu.
” Lantas saya ada dimana?.”
” Kamu sedang berada di dalam mimpi.”
” Apa?.” tanya Seldy kembali. Seldy Seakan tak mengerti dengan ucapan sang Kakek.
” Apa kamu ingat kejadian sebelumnya?.”
Pertanyaan itu membawa Seldy teringat sebuah kejadian tragis kecelakaan bus yang membuat kawan dan dirinya hampir terbunuh, setelah usai mengingatnya wajah Seldy kembali tegang.
” Dari lima puluh anak dan 7 guru di dalam bus. Apa kamu merasa tidak aneh kalau hanya kamu seorang yang masih diberi kesempatan untuk hidup?.” tanya kakek itu.
Seldy hanya dapat terdiam tak mengerti dengan maksud kakek itu.
” Kamu sudah terpilih Seldy, kamu tidak akan bisa mati setelah kamu berusia lima puluh tahun.” ujar Kakek itu meyakinkan.
Seldy tersenyum masam, ” Jangan bercanda pak tua.”
” Ingat ada sebuah pantangan yang harus kamu ketahui sendiri. Jadi...gunakan kemampuanmu sebaik-baiknya.” ujar Kakek itu untuk yang terakhir kalinya dan membawa Seldy ke alam sadarnya.
Sontak Seldy segera membangunkan diri dari ranjangnya dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran di sekitar wajahnya. Randy yang masih setia di samping Seldy ikut terkejut.
” Seldy kamu sudah sadar.” Ujar Randy dengan senyum kebahagiannya.
***
Setelah dinyatakan sembuh, akhirnya Seldy di perbolehkan kembali pulang. Di kamarnya, Seldy segera mencoba membuktikan ucapan seorang kakek aneh yang merasuki mimpinya. Seldy segera mengambil sebilah silet dari dalam kepala alat cukurnya, sambil memejamkan mata Seldy menyilet urat nadi di tangannya. Ajaibnya Seldy sama sekali tidak merasakan kesakitan saat kembali membuka kedua matanya untuk melihat urat nadi yang sudah terbelah dan seketika kembali menyatu.
Sontak Seldy terkejut karna sulit mempercayainya, untuk kembali meyakinkannya Seldy pun kembali mencoba memotong urat nadinya berkali-kali namun tetap saja urat nadi Seldy kembali menyatu seperti sedia kala.
Seldy segera pergi ke kamar Randy, Seldy tak sabar ingin memberitahunya tentang kemampuan yang dimilikinya. Namun saat Seldy membuka pintu kamar, Randy tak nampak dimana-mana. Seldy pun harus kecewa sambil beranjak menutup pintu kamar Randy.
Tak sengaja Seldy melihat selembar robekan koran di ranjang Randy, dengan rasa penasaran Seldy kembali masuk ke dalam kamar Randy untuk melihatnya lebih dekat. Seldy mengambil dan membaca dengan cermat, ternyata robekan halaman koran itu adalah sebuah lowongan kerja yang sedang mencari stuntman untuk kebutuhan syuting Film.
Seldy kembali teringat dengan kemampuannya dan Seldy pun segera berangkat mendatangi tempat audisi.
***
Saat tiba di tempat audisi, Seldy tak mengira jika banyak orang-orang yang berkumpul demi mendapatkan pekerjaan berbahaya itu.
Satu persatu sang sutradara mengaudisi para peserta untuk mencari yang terbaik. Mereka dipinta untuk membanting diri di meja yang terbuat dari kaca, dipukul dengan balok kayu, ataupun sengaja menabrak sebuah mobil ke tiang beton.
Satu persatu mereka semua tumbang, ada yang patah tulang, memar, dan hal menyakitkan lainnya yang membuat hati Seldy menciut untuk mencoba.
” Next....” ujar seorang sutradara pada Seldy yang berada di barisan paling depan.
Seldy tak menyahuti panggilan sang sutradara karna masih berada di dalam lamunan kecemasannya. Sementara para kru kebingungan.
” NEXT.....” sang sutradara melantangkan suaranya. Hal itu menarik Seldy keluar dari lamunannya.
” Baik....” sahut Seldy cepat.
Seldy bersiap untuk maju sebelum sempat menghela napas panjang untuk mengatur detak jantungnya yang berdetak tak karuan.
” Nama kamu Seldy, wah.....kamu masih 17 tahun?.” ujar sang sutradara sambil membaca profile Seldy di secarik kertas.
“ Iya!.”
“ Berani sekali, Apa sudah dapat izin dari orang tua kamu?.”
” Sudah.” Seldy terpaksa berbohong.
” Kalau begitu, coba lakukan adegan ke 13 saat sang peran utama dibanting oleh sang lawan ke meja yang terbuat dari kaca.” perintah sutradara.
” Ba...baik...” jawab Seldy tegang.
Tibalah Seldy menunjukkan aksinya di hadapan sang sutradara, seorang pria berbadan besar berdiri di hadapan Seldy lalu mengambil ancang-ancang untuk melakukan tugasnya.
Sutradara menghintung mundur, ” 3 2 1.....ACTION.....”
Pria bertubuh besar itu langsung mengangkat tubuh Seldy sampai setinggi langit-langit dengan mudah. Kemudian pria itu membanting Seldy ke sebuah meja kaca yang telah dipersiapkan. Seldy terbanting dengan kerasnya, meja kaca berubah menjadi serpihan-serpihan kecil yang mampu menyilet-nyilet sekujur tubuh Seldy. Tim medis segera menghampiri Seldy yang tak kunjung terbangun.
Salah seorang tim medis memeriksa denyut jantung Seldy.
” Bagaimana?.” tanya sang sutradara dengan cemas.
” Detak jantungnya normal.” jawab salah satu tim medis setelah memeriksa denyut jantung Seldy dengan tetoskop.
Dari atas serpihan kaca itu, tiba-tiba Seldy membuka mata dan segera membangunkan diri tanpa adanya luka sedikit pun.
“ Aku gak apa-apa ko.” Ujar Seldy pada sejumlah orang disana yang terlihat kaget.
” Masukkan anak ini ke dalam daftar peserta yang lolos seleksi.” Melihat kehebatan Seldy sang sutradara langsung merengkrutnya.
***
Malam hari Seldy sampai ke rumah dan segera menginjakkan kaki ke dalam rumahnya dengan senang. Namun hari itu, wajah keluarganya terlihat sendu saat sedang berkumpul di ruang tengah.
” Ada apa?, kenapa wajah kalian keliatan sedih begitu?.” tanya Seldy sambil ikut duduk di samping Randy.
” Kamu tau, Pak Lukmana yang menjengukmu kemarin?.” tanya Randy ulang.
” Pak Lukmana teman bapakkan?, memang Pak Lukmana kenapa?.” tanya Seldy kembali.
” Tadi barusan kami pergi ke pemakamannya.”
Seldy terkejut, ” Pak Lukmana meninggal?.”
” Saat kami datang di acara pernikahan anaknya pagi tadi, secara tiba-tiba Pak Lukmana terkapar di lantai dan sudah tak bernyawa.”
” Secara tiba-tiba?.” Seldy masih sulit mempercayai apa yang didengarnya barusan.
” Kamu darimana saja seldy?, bukannya bapak bilang untuk tidak keluyuran kemana-mana.” ujar Bapak mengalihkan pembicaraan.
” Seldy habis main basket di lapangan pak.” Seldy tidak ingin keluarganya tau tentang kemampuannya karna itu seldy terpaksa berbohong. Walaupun di dalam benak, Seldy tak ingin melakukan hal itu dan membuat keluarganya cemas.
***
Seldy berhasil mendapatkan gaji pertamanya, jumlahnya cukup untuk membeli sepeda motor yang diinginkannya sejak dulu. Namun itu membuat Bapak, Ibu dan Randy heran dan menanyakan darimana motor itu bisa didapatnya.
” Seldy habis menang undian berhadiah pak, bu, ka.” begitu jawab Seldy yang sudah terbiasa berbohong untuk kesekian kalinya. Dan hal itu membuat keluarganya tak lagi berperasangka curiga pada Seldy.
Lama kelamaan bekerja dan menghasilkan banyak uang membuat Seldy lupa diri. Sekarang Seldy hidup semaunya dan hidup dimana pun semaunya. Seldy pun berani melakukan hal-hal yang tak pernah dilakukannya sejak dulu seperti ngetrek, berjudi, merokok dan mabuk-mabukkan.
Di tengah malam saat Bapak hendak pergi ke dapur untuk mencari minum. Seldy tertangkap basah sedang meneguk sebotol minuman dan Bapak segera menegurnya.
” Seldy!!, apa-apaan kamu.” tegur Bapak sambil merebut botol minuman dari genggaman Seldy.
” Eeehhhh.....bapak.” sahut Seldy dalam keadaan setengah mabuk.
” Sejak kapan kamu begini?.” tanya Bapak.
” Sejak jadi stuntman.” jawab Seldy sambil tersenyum lepas.
” Stuntman?, apa yang kamu bicarakan?.”
” Seldy gak bisa mati pak.”
” Kamu benar-benar sudah mabuk rupanya.”
” Bapak gak percaya?, apa mau Seldy buktiin?.”
Lalu Seldy mengambil sebilah pisau dapur, kemudian tanpa basa basi Seldy segera menancapkannya ke jantungnya. Sontak Bapak terkejut.
” Seldy....Seldy...., apa yang kamu lakukan?.” Bapak gemetaran.
Seldy malah tersenyum saat melihat Bapak yang tak kuasa menyimak hal yang telah dilakukannya. Tak lama Seldy kembali mencabut pisaunya dan kembali hidup sekali lagi hal itu mengejutkan Bapak. Akan tetapi setelah itu, Bapak tiba-tiba terkapar di lantai dan jantungnya mengeluarkan banyak darah.
Seldy terkejut dan segera membangunkan Bapak yang sudah tak bernyawa.
” BAPAK......BAPAK.......!!.” seru Seldy dengan lantang.
” Ada apa ini?.” di saat seperti itu Randy datang. Randy terkejut setelah melihat kondisi Bapaknya dan Randy segera menghampirinya.
“ BAPAK.....BAPAK......!!.” seru Randy histeris.
“ Apa yang kamu lakukan? HAA.....?.” tanya Randy pada Seldy yang dalam keadaan shok. Randy melihat Seldy memegang sebelah pisau bercucuran darah dan menuduh Seldy.
” Kamu yang sudah membunuh Bapak kan?.” sambung Randy.
Seldy hanya dapat menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
” Kamu benar-benar sudah tidak bisa tertolong lagi.” ujar Randy tajam. Lalu Randy segera membawa Bapak ke Rumah Sakit.
***
Sesampainya di Rumah Sakit, Randy dan Seldy datang hanya untuk mendapat laporan dari dokter jika Bapak sudah tiada. Lalu Randy memojokkan Seldy disebuah sudut dengan garang.
” Ka..... dengerin penjelasan Seldy dulu.” ujar Seldy gemetar.
” Coba jelaskan!, tapi itu tidak akan membuat kaka memaafkan kamu.”
Lalu Seldy mengambil pemantik api dari saku celananya, kemudian Seldy menyulut api ke telapak tangannya. Setelah telapak tangannya melepuh lalu Seldy mematikannya. Randy terkejut saat melihat telapak tangan Seldy kembali seperti sebelumnya.
” Kamu!!.” Randy sulit mempercayainya.
Lalu rasa sakit yang seharusnya di rasakan Seldy terkirim ke telapak tangan Randy.
” Kaka mengertikan?.” ujar Seldy berkaca-kaca pada Randy yang sedang merasakan kesakitan.
” Kamu dapat kemampuan ini dari siapa?.” Randy kembali memojokkan Seldy.
” Kaka.......” Seldy kecewa karna Randy tak juga mengerti.
” Jangan sebut gue dengan panggilan itu.” teriak Randy.
” Seldy baru tau pantangan itu sekarang, tadi kaka pegang tubuh Seldy kan?.”
” Tolong hentikan.” perintah Randy.
Seldy terdiam sejenak.
” Seldy masih ada beberapa kontrak.”
” Kontrak apa?.” tanya Randy.
” Sebagai stuntman.”
” Kamu jadi stuntman?, Silahkan kalau kamu mau membunuh kakamu satu-satunya.”
Seldy kembali terdiam sejenak.
” Tentu saja.” ujar Seldy tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun.
Randy terkejut.
” Apa kamu sadar telah membunuh Pak Lukmana dan Ibu karna hal itu?. Dan sekarang bapak.”
” Kalau seldy gak ngelakuin itu, Kita gak akan bisa bayar ganti rugi kontrak. Seldy akan di bunuh renternir dan hal itu akan sama saja, seseorang pasti akan terbunuh karna Seldy.” ujar Seldy.
Randy menganggukkan kepala kecil dan menyerahkan semua keputusan pada Seldy. Lalu Seldy pergi.
***
5 TAHUN KEMUDIAN
Seorang saudagar kaya mengetahui kemampuan Seldy, stuntman sekelas internasional. Lalu Fery, biasa saudagar kaya itu disebut membawa Seldy untuk menugaskannya membunuh lawan-lawan bisnisnya dengan bayaran yang tak sedikit. Karna Fery, Seldy menjadi stuntman sekaligus pembunuh bayaran terkaya di dunia.
Di saat mulai menikmati kekayaannya, di apartemennya Seldy ditangkap oleh sekelompok mafia. Ternyata bos mereka adalah musuh bisnis Fery.
Tak ada yang berani menyentuh Seldy dengan tangan kosong saat Seldy disiksa di sebuah ruangan tertutup dan dikabarkan jika istri tercintanya meninggal dunia. Seldy memohon ampun, namun tak ada belas kasihan untuknya sampai Seldy tak sadarkan diri.
Di masa tak sadarkan dirinya, Seldy bermimpi bertemu dengan Randy dan mereka berdua sedang duduk dihamparan rumput seluas mata memandang dengan angin sepoi-sepoi mengiringi kedamaian dan kerinduan Seldy pada Randy yang harus meninggal lima tahun lalu karnanya.
” Apa kamu sudah menyerah?.” tanya Randy.
Seldy hanya dapat menjawab pertanyaan itu dengan linagan airmata.
” Biar kaka kasih tau sebuah rahasia, kaka juga pernah mempunyai kekuatan itu.”
Seldy berhenti menangis dan menyimak pernyataan kakanya dengan seksama.
” Tapi kaka memilih berhenti setelah mendapat berita jika bus yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan dan kaka hampir membuatmu mati. Andaikan saja kamu lebih peka dan mengetahui pantangannya sebelum menikmati kemampuanmu, ini tidak perlu terjadi. Asalkan kamu mau menyerah sekarang, kamu masih belum terlambat.”
” Iya Seldy menyerah ka....., Seldy menyerah ka......” teriak Seldy sambil menangis histeris.
Seldy terus berteriak sekencang-kencangnya, tiba-tiba sebuah penghapus papan tulis melayang ke kepala Seldy dan membuatnya terbangun. Sementara semua penghuni kelas menertawani igauannya.
” Kamu sedang menyesali apa?.” tanya pak guru yang sedang mengajar.
Seldy celingak-celinguk kebingungan setelah menyadari jika dirinya telah kembali menjadi siswa SMA.
” Ayo anak-anak cepat bergegas.” perintah pak guru.
” Kita mau kemana pak?.” tanya Seldy dengan polosnya.
” Kita akan berlibur ke Bandung, apa kamu lupa?.” jawab pak guru.
” Maaf pak!, tapi saya gak bisa ikut.”
” Kenapa?.” tanya Pak guru heran.
” Maaf pak!.”
Lalu Seldy mengambil tasnya dan bergegas pergi dari kelas.
Seldy sampai juga di rumah yang dirindukannya, lalu Seldy masuk dan menemui orang tuanya dan juga Randy yang bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.
Jakarta, Mei 2011
Well Die
Diposting oleh
gravil esidra
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar